Saturday, April 15, 2006

Dialog Ulama Aceh dengan FSPP ; Peran Ulama di Sektor Pertanian

Forum Silaturrahmi Pesantren dan Petani (FSPP) Yogyakarta
Kamis, 30 Maret 2005 Pukul 19.00-22.00 Wib
Di Pondok Pesantren Assalafiyyah Mlangi Sleman

Mayoritas Penduduk Indonesia adalah Petani, sudah menjadi keharusan bahwa dayah/pesantren menjamin komunikasi strategis dengan kelompok tani. Bagaimana peranan strategis ini diwujudkan dalam bentuk kerjasama antara Dayah di Aceh dan Pesantren di Jawa Khususnya FSPP.
Pertemuan ini dihadiri oleh elemen yang tergabung dalam Forum Silaturrahmi Pesantren dan Petani antara lain Kiai Hasan Abdullah (PP Assalafiyah), Dr.Maksum (PSPK UGM), Imam Aziz (Syarikat), Jadul Maula (LKiS), KH Mu'tasim Billah(PP Sunan Pandanaran), Marzuki Kurdi (Forum Warga Bantul), KH Syofiullah (PP Wahid Hasyim), Perguruan Islam Tionghoa Indonesia (PITI-DIY), KH Muhaimin (PP Nurul Ummahat), Nalendra, Ihyarul Fahmi, Ngatiyar, Hambali, Nur Kholik Ridwan, Lutfi Rahman, Ahmad Sahal, Sidqi, Maulani, Afifi, dan kawan-kawan. Pertemuan ini diselenggarakan di PP Assalafiyah Mlangi yang dimulai pada jam 20.00 sampai 22.00 wib.

Acara yang dimoderatori oleh Gus Syofiullah membuka dengan membaca alfatihah dan diteruskan dengan sharing pengalaman antar peserta dialog. Kesempatan pertama diambil oleh Dr. Maksum yang berargumentasi bahwa UGM pasca kejadian Tsunami orientasinya kepada proyek, piye iki bangun sanitasi, bangun insfrastruktur dan sebagainya. Akibatnya masyarakat atceh menjadi ketergantungan terhadap pihak luar…kemudian perwakilan dari dayah aceh mengungkapkan bahwa kami setelah belajar/sorogan ke Sidogiri dan Lirboyo ada hal yang kami dapatkan antara lain bagaimana system pendidikan salaf yang ada di Jawa bisa kami kembangkan di NAD, bahkan antara pemain dan pelaku harus seimbang, kita ini seperti main sepakbola, pengamat/penonton pasti lebih hebat dibandingkan dengan pemain, permasalahannya bagaimana dua elemen ini menjadi sinergis dan saling membutuhkan. Kami pasca bencana tsunami mengalami trauma yang luar biasa, salah satunya yang kami kwatirkan adalah adanya loss generation, kami tidak menginginkan hal ini terjadi bagi kami sebagai bangsa aceh, maka kami sangat berharap ada sesuatu yang bisa kita kerjakan bersama-sama. Selanjutnya perwakilan dari PITI DIY kami sebagai orang yang prihatin terhadap kondisi aceh pasca kejadian bencanan tsunami langsung melakukan konsolidasi, salah satu kerja kongkrit kami adalah memberikan beasiswa kepada korban bencana tsunami kepada mahasiswa/pelajar yang ada di Jogjakarta, di sector pertanian kami mempunyai mesin giling di Kulon Progo, kami mampu membeli gabah dari petani langsung berton-ton, tapi selama ini tidak sesuai dengan target.

Adapun dayah dari atceh yang hadir 15 Dayah antara lain Tengku Mansyur (Yayasan Pesantren tgk Chiek Peulumat, kelurahan jojo Mutiarqa Timur Pidie), Tengku Hasbi Al-Bayuni (Dayah Tholibuk Huda, Desa Bayu Lamcot Darul Imarah Aceh Besar), Tengku Kasman Arifa (Dayah Darul IstiqomahDesa Geulanggang Teungoh Kota Juang Bireuen), Tengku Ibnu Hajar (Dayah Malikussaleh Desa R itek Tanah Jambo Aye Aceh Utara), Tengku Munawwar Sanusi (Dayah Mahyal Ulum, Desa Dilip Bukti Sibreh Suka Makmur Aceh Besar)., Tengku Al-Hafidz (Dayah Bahrul Ulum, Desa Janguet Jaya Aceh Jaya), Tengku Baehaqi (Dayah Darul Falah, Gampong Blangarien Nisam Aceh Utara), Tengku Masrur Aidi (Dayah Babul Magfiroh, Lam Alue Cut Kuta Baro Aceh Besar), Tengku Rasyidin (Dayah Nurul Muta’allam, sikem Bambong Delima Pidie), Tengku Zul Fahmi (Dayah Madinatul Fata, lampuet Bandaraya Banda Aceh), Tengku Lutfi (Thautiatutullab, Arongan Simpang Namplan Bireuen), Tengku Haji Ismail (Dayah Ruhul Fatah, seulimeum Aceh Besar) Tengku Musanni (dayah al-islahMesjid Leung Bata Kota Banda Aceh), tengku Tarmizi (Dayah Budi al-muktari, pante pisang Peusangan Bireuen), dan Tengku Hermansyah (Dayah Ulee Titi, Ingin Jaya aceh Besar).

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home